MENUJU PUNCAK KESADARAN SEORANG HAMBA
Oleh: Inge
Bumi sudah menua. Makhluk hidup di muka bumi semoga tidak semakin liar. Seharusnya kita dapat belajar dari bulan Ramadhan dan hikmahnya. Berputarnya waktu selama 12 bulan tidaklah sebentar justru menjadi cambuk tolak ukur perangai seseorang.
Tiga kelompok manusia pasca ramadhan bisa menjadi tolak ukur kualitas seseorang dan berimplikasi pada masa depan umat. Pertama, kelompok muslim yang sebelum dan sesudah ramadhan sama saja. Sama-sama mengabaikan ketaatan kepada Allah SWT. Jadi ada atau tidak nya Ramadan tidak berdampak signifikan kepada mereka. Status manusia dalam kelompok ini adalah celaka. Panggilan agung dengan limpahan pahala tidak berpengaruh pada mereka. Kedua, kelompok muslim yang sebelum Ramadan jauh dari Allah SWT dan sering mengabaikan ibadah. Akan tetapi ketika Ramadan tiba mereka bersungguh-sungguh mengerjakan ibadah lalu ketika ibadah ramadhan berlalu maka berlalulah pula segala rangkaian amalan ibadah mereka. mereka termasuk golongan 'hamba Ramadhan' dimana mereka baru mendekati Allah hanya pada bulan Ramadhan saja. Ketiga, kelompok muslim yang sebelum Ramadan memang sudah dekat dengan Allah SWT. Mereka selalu bersungguh-sungguh menjalankan aturan Allah ketika datang bulan Ramadhan. Ketaatan mereka semakin bertambah. Usai ramadhanpun mereka tetap bekerja keras menjaga ketaatan tersebut. Inilah golongan yang beruntung karena mereka terus-menerus memelihara ketakwaan mereka sepanjang tahun bahkan semakin meningkat.
Demikian status tiga kelompok pasca bulan Ramadhan berlalu. Ketika keimanan seseorang semakin bertambah dan amalan-amalan yang dilakukan tidak jauh berbeda ketika di bulan Ramadan maka bisa menjadi tolak ukur diterimanya amalan oleh Allah SWT. Oleh karena itu sebagai manusia kita bisa memilih kualitas keimanan yang seperti apa yang kita inginkan. Tentu bagi seorang muslim yang tangguh akan berlomba-lomba dalam kebaikan dan memilih golongan ketiga. Kuncinya adalah senantiasa menajamkan kepekaannya akan adanya kesadaran hubungannya dengan sang pencipta. Dia tidak terjebak pada rangkaian kerusakan kehidupan yg bermuara pada tidak diterapkannya syariat Islam. Kehidupan liberal kapitalisme mereka pandang sebagai ujian bukan kenikmatan. Hatinya selalu terpaut pada kemenangan Islam. Langkahnya senantiasa menapaki proses menuju pemahaman umat.
