Ulama Sebagai Waratsul Anbiya Bukan Ulama SU'
Oleh : Tiara Afsari,S.Pd
Pengurus Besar Nahdatul Ulama (PBNU) menilai keputusan Indonesia bergabung dalam Dewan Perdamaian (Board Of Peace) bentukan presiden Amerika Serikat, Donald Trump, adalah keputusan tepat. “Keputusan presiden untuk bergabung di Board of peace ini, saya kira adalah Keputusan yang tepat berdasarkan komitmen yang abadi untuk membantu palestina.” Kata ketua umum PBNU, Yahya Cholil Staquf saat ditemui di kantor PBNU (30/1/2026).
Di lain sisi Majelis Ulama Indonesia (MUI) meminta pemerintah Indonesia mundur dari Board of Piece atau Dewan Perdamaian yang dibentuk Presiden AS Donald Trump. Mensesneg Prasetyo Hadi mengungkap pihaknya akan berdialog dengan MUI terkait hal itu. Jakarta pada Kamis (5-3-2026).
Berdasarkan fakta tersebut bahwa adanya perbedaan pandangan Organisasi Masyarakat (Ormas) ataupun ulama mengenai kebolehan Indonesia masuk BOP. Perbedaan pandangan ini membuat pro kontra di masyarakat mengenai BOP. Untuk menjaga kedamaian di masyarakat maka ulama yang mengambil peran tersebut. Ulama adalah pemimpin umat yang setiap perkataannya dan perbuatan cerminan dari ilmunya dan ulama sebagai waratsatul anbiya.
Ulama tidak hanya sebagai pemimpin umat tapi dia juga punya peran penting didalam pemerintahan. Ulama sebagai pilar untuk menyampaikan amar makruf Nahi Munkar kepada penguasa. Aktivitas ini untuk memantau atau mengevaluasi setiap kebijakan penguasa apakah berjalan sesuai koridor syariat atau berbuat zalim kepada rakyatnya.
Seorang ulama tidak dibenarkan diam atau ikut apa kebijakan yang telah dikeluarkan oleh pemerintah yang dinilai melanggar syariat Islam. Umat Islam dan para ulama harus membuka mata, bergabung dengan BOP berarti bersekutu dengan negara kafir penjajah. Karena BOP merupakan cetusan Amerika Serikat dan AS adalah kafir harbi fi'lan yakni kafir yang nyata memusuhi Islam. BOP hanya salah satu cara untuk menghilangkan Gaza dari dunia. Dengan di bentuknya BOP yang bertujuan memberikan kedamaian kepada Palestina dan tujuannya ingin membangun Gaza raya.
Tapi apakah itu tujuan sebenarnya? sedangkan anggota BOP ada Zionis Israel yang jelas mereka lah yang megenosida Gaza.
Inilah peran ulama tadi menyampaikan kepada umat bahwa strategi musuh dalam mengadu domba umat muslim lewat BOP ini. Untuk itu ulama harus menyadarkan umat pentingnya kesatuan jangan mudah terpecah belah dalam propoganda musuh.
Sebagian ulama lebih mengutamakan pada amar makruf sedangkan nahi munkar tidak terjamah. Lebih parah lagi bermunculan nya ulama su' yang mengedepankan dunia dengan mendiamkan kezaliman penguasa, membuat fatwa yang meresahkan umat sehingga umat bingung ulama mana yang harus di ikuti.
Kenapa hal ini terjadi karena adanya sistem sekuler kapitalis yang telah mengikis dan mengaburkan peran ulama. Selain itu juga menggerus pemahaman , mengkerdilkan nilai Islam itu sendiri dan menafsirkan sesuka hati. Ulama seperti ini lah yang harus di jauhi dan umat muslim tidak boleh mengikuti ulama yang seperti itu.
Dalam Islam, ulama adalah pewaris para nabi yang memiliki tanggung jawab besar menjaga agama agar tidak menjadi lecehan ataupun di kotomi sehingga Islam tetap menjadi agama utuh yang aturannya tidak di comot sesuka hati sesuai dengan hawa nafsu.
Ulama wajib ada di garda terdepan dalam melakukan muhasabah lil hukam, membimbing dan menasihati pemimpin agar tetap pada di syariat dalam melakukan tugasnya mengurusi urusan rakyat. Ulama sebagai raa'in (pemimpin) dan junnah (perisai), jika ada kezaliman penguasa terhadap rakyatnya, atau jika ada berbagai kebijakan yang menyalahi syariat (baik kebijakan terkait urusan DN maupun LN).
Ulama tidak boleh menyembunyikan kebenaran syariat. Ulama tidak boleh terbeli oleh kenikmatan dunia yang sedikit yang dapat mencegahnya dari amar makruf nahi mungkar. Karena ulama sebagai waratsatul anbiya, ulama menjadi _marja' ad-din (rujukan agama) dan marja' as-siyasiy (rujukan politik) bagi seluruh umat termasuk pemimpin.
Rasulullah saw. bersabda
(أفضل الجهاد كلمة حق عند سلطان جائر)
“Jihad yang paling utama adalah menyampaikan kalimat kebenaran di hadapan penguasa yang zalim.” (HR Abu Dawud, Tirmidzi, dan Ibnu Majah).
Dari hadist tersebut jelas bahwa ulama tidak hanya menyampaikan beramal ma'ruf
Tapi yang utama adalah nahi Munkar. Dengan Nahi Munkar maka akan mencegah kemaksiatan merajalela berkedok kebijakan yang dikeluarkan oleh penguasa zalim.
Selain itu juga di sampaikan jihad yang utama adalah mengatakan kebenaran kepada penguasa dan saat ini bermunculannya ulama SU' yang memporak-porandakan kesatuan umat dan harus berhati hati dengan ulama yang seperti ini.
Dengan adanya Khilafah maka ulama akan kembali pada perannya sebagai penjaga agama Islam dan sebagai pewaris nabi.
