Fatherless Melanda Nasib Generasi Taruhannya
Oleh : Rakhmawati Aulia
Belakangan di media sosial ramai membicarakan fenomena fatherless yang melanda Indonesia, bahkan disebut-sebut sebagai salah satu negara yang mengalami fatherless terbesar. Istilah fatherless sendiri merujuk pada kondisi hilangnya kehadiran sosok Ayah dalam kehidupan anak baik secara fisik maupun emosional, meskipun masih hidup.
Dilansir dari CNN Indonesia (17/10/2025), berdasarkan data yang diperoleh hampir 15,9 juta anak di Indonesia tumbuh tanpa kehadiran peran seorang ayah. Menariknya, dari jumlah tersebut anak-anak yang mengalami fatherless akibat hidup tanpa ayah 4,4 juta, sedangkan 11,5 juta anak lainnya mengalami fatherless akibat kesibukan bekerja ayah yang hampir 60 jam per Minggu.
Hilangnya peran ayah dalam pengasuhan dan kehidupan anak memiliki dampak yang besar bagi perkembangan anak, baik secara psikologis dan emosional yang serius. Anak dapat mengalami gangguan emosi, rendah diri, perasaan tidak aman, bahkan berisiko melakukan tindakan yang menyimpang hingga tindakan kriminalitas.
Beberapa penelitian menunjukkan bahwa kehilangan sosok ayah, terutama anak-anak yang tumbuh dalam keluarga fartherless karena perceraian atau pengabaian, cenderung menjadi lebih agresif dan mudah terlibat dalam pergaulan bebas akibat minimnya figur laki-laki yaitu sosok ayah. Sedangkan, anak laki-laki yang tumbuh tanpa kehadiran ayah sebagai role model maskulinitas, akan mudah melakukan tindakan kekerasan, kesepian kronis dan stress berkepanjangan.
Fenomena fatherless yang melanda tidak bisa dianggap sepele, terlebih lagi akan berdampak berkepanjangan terhadap masa depan generasi sebagai penerus peradaban yang menjadi taruhannya. Lantas mengapa fatherless bisa menjadi sebuah fenomena?
Pembangunan Kapitalistik Sekuler Lahirkan Fatherless
Fenomena fatherless yang melanda bukan serta-merta lahir dengan alamiah. Fenomena ini tidak bisa dilepaskan dari kebijakan pembangunan kapitalistik sekuler yang dengan sukses menciptakan kesenjangan dan kemiskinan. Inilah harga mahal yang harus dibayar umat ketika terus dibiarkan menjadi objek pembangunan kapitalistik.
Kapitalisme yang lebih mengutamakan membangun infrastruktur ekonomi secara fisik, namun abai dalam membangun kekuatan suprastruktur moral yang akan membangun manusia. Akibatnya masyarakat yang hidup hanya berputar dan berjibaku dalam pemenuhan kebutuhan dasar semata. Masyarakat termasuk ayah terpaksa berjuang untuk sekedar bertahan hidup mengejar materi, bukan untuk sesuatu yang besar dan mulia. Padahal kebutuhan masyarakat adalah kunci pertama sehatnya sebuah peradaban yang akan membentuk kualitas generasi berkelanjutan.
Terampasnya kebutuhan dasar menjadikan setiap ayah tersibukan di dunia kerja fokus mencari nafkah, kehilangan perannya dalam keluarga dan tidak mampu memberi perhatian pada masalah besar lainnya dalam membentuk generasi. Akhirnya peran ayah di dalam rumah dilakukan oleh para ibu, padahal tidak semua peran ayah bisa digantikan oleh ibu.
Dalam Islam kedudukan ayah dan ibu memiliki perannya masing-masing, saling melengkapi dalam melakukan pengasuhan dan pendidikan dalam membentuk kepribadian anak.
Islam Mengembalikan Peran Ayah Membentuk Generasi Rabbani
Ayah sebagai kepala keluarga memiliki peran yang sangat strategis, ia tidak hanya berkewajiban dan bertanggung jawab dalam pemberian nafkah tetapi juga dalam memberikan pendidikan terbaik. Kesibukan ayah di luar dalam mencari nafkah tidak boleh sampai membuat lupa pada pendidikan anak.
Allah SWT berfirman:
Berkata Luqman : "Hai anakku, dirikanlah shalat dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu Termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah)". (QS. Luqman : 17)
Sebagaimana di dalam Al Qur'an telah menggambarkan pentingnya peran ayah sama pentingnya dengan peran ibu dalam dialog Luqmanul Hakim terhadap anaknya. Ayah memberikan pengajaran terbaik kepada anaknya dimulai dari menanamkan aqidah Islam, ibadah, melakukan amar makruf nahi mungkar hingga masalah kepemimpinan.
Jika dalam pembangunan kapitalis sekuler melahirkan orang-orang yang berorientasi pada materi, sedangkan Islam memanusiakan manusia agar menjadi manusia yang bertaqwa.
Dalam Islam seorang ayah memiliki kewajiban untuk menafkahi keluarga, namun tenaganya tidak untuk dihabiskan mencari materi. Sehingga ayah tetap bisa menjalankan kepemimpinan dan kepengurusannya terhadap keluarga, terkhusus melahirkan generasi Rabbani.
Untuk mengujudkannya dibutuhkan peran negara yang tidak hanya sebagai fasilitator tetapi mampu menghasilkan kebijakan yang berorientasi pada kemaslahatan masyarakat. Negara harus hadir sebagai pengurus ummat.
Islam sebagai rahmatan Lil alamin memiliki sistem peraturan hidup yang mengatur seluruh aspek kehidupan yang dapat digunakan sebagai solusi mengatasi problem negeri ini termasuk masalah fatherless yang terjadi secara sistematis. Solusi tersebut satu paket dengan penerapan Islam Kaffah, sehingga perlu ada upaya untuk mengujudkannya hadir ditengah-tengah masyarakat menggantikan sistem yang telah usang. Wallahualam bissawab.
.jpeg)