PROGRAM 7 JURUS BK HEBAT, EFEKTIFKAH ?
Oleh: Inge Oktavia Nordiani
Gagasan 7 jurus BK hebat perlu diapresiasi. Gagasan yang diluncurkan oleh Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) dilatarbelakangi oleh kondisi semakin kompleksnya permasalahan remaja sementara seorang individu unik butuh sebuah proses berkembang secara optimal. Oleh karena itu butuh cara-cara baru yang ampuh untuk dapat menanggulangi itu semua. Program ini pun menyasar bukan hanya kepada guru BK melainkan juga kepada guru terutama guru wali. Pasalnya tugas memberikan pendidikan diluar akademik bukan hanya tanggungjawab guru BK melainkan juga semua guru.
Titik awal program ini adalah dengan melakukan bimbingan teknis kepada calon Fasilitator Nasional (Cafasnas) hingga menjadi Fasnas. Bimbingan teknis ini dimulai pada bulan Juli 2025. Nantinya Fasnas ini yang akan melakukan transfer ilmu kepada Calon Fasilitator Daerah (CaFasDa) hingga menjadi Fasda. Bimbingan teknis yang diberikan pada CaFasDa dimulai bulan Oktober 2025. Rencana jangka panjangnya nanti di tahun 2026 Fasda akan menyasar 7 Jurus BK Hebat ini kepada seluruh guru BK dan non BK di setiap daerah. Adapun bekal 7 jurus yang disiapkan antara lain 1. kenali potensi, 2. Kelola Emosi, 3. Tumbuhkan resiliensi. 4. Jaga konsistensi, 5. Jalin koneksi, 6. Membangun kolaborasi, dan 7. Menata situasi.
Sejauh ini pemerintah telah berupaya memberikan yang terbaik untuk mencari formula memperbaiki kondisi generasi. Lebih-lebih dalam menyongsong Indonesia emas 2045. Namun ada satu hal yang krusial terlupakan di dalam proses pembentukan karakter/kepribadian seseorang. Hal tersebut adalah bangunan akidah yang kuat yang ditopang oleh segala lini mulai dari keluarga, masyarakat dan negara. Banyak sisi dari problema negeri ini yang terjadi akibat tidak adanya kesatupaduan antara keluarga, masyarakat dan negara. Bahkan terkadang antara peraturan pusat tidak senada dengan aturan yang diinginkan masyarakat. Sebagai contoh. Tidak ada keluarga ataupun di masyarakat yang menginginkan anak-anaknya terjebak bullying, pergaulan bebas dan berbagai kerusakan generasi hari ini. Namun dengan tidak adanya aturan yang tegas dari negara begitu juga sanksinya yang tepat, ini yang membuat kerusakan generasi tidak bisa ditekan angka kemunculannya. Cara pandang generasi terhadap kehidupan juga sebatas dalam pemenuhan kebutuhan materi. Hal ini terpicu dari sistem kehidupan sekuleristik yang diadopsi oleh negeri ini.
Oleh karena itu sejatinya amanah untuk mengembalikan generasi pada fitrahnya yang itu sebagai agen of change, tidak hanya berada dipundak guru-guru BK melainkan oleh semua pihak. Dalam Islam
Penguasa sebagai adalah sebagai ra'in yang berarti penguasa adalah penggembala atau pelindung yang memiliki tanggung jawab besar atas rakyatnya seperti halnya seorang penggembala yang merawat dan menjaga domba-dombanya. Peran ini menuntut penguasa untuk melindungi dan mengurus kepentingan rakyat, baik dari segi agama, keamanan, sandang, pangan, maupun papan. Tanggung jawab ini akan dimintai pertanggungjawaban di akhirat.
.jpg)