Program MBG, Produk Gagal Sistem Kapitalisme

 



Oleh: Finis


Direktur Kebijakan Publik CELIOS, Media Wahyudi Askar, mengkritik program makan bergizi gratis (MBG) yang tetap disalurkan atau berjalan, padahal sekolah saat ini sedang libur. "Masyarakat hari ini itu bingung, bagaimana mungkin ketika anak-anak sekolah libur, kemudian MBG itu masih jalan, orang tua harus ke sekolah, guru tetap harus di sekolah, dan lain-lain," katanya dalam program Sapa Indonesia Pagi. Media mengatakan, ada kesalahan sangat signifikan dalam tata kelola MBG, terutama pada saat libur sekolah (kompas.tv, 26/12/2025).


Setahun sudah program MBG berjalan, namun penurunan stunting belum menampakkan hasil yang ditargetkan oleh pemerintah. Sementara beberapa kasus banyak mewarnai perjalanan program ini, seperti keracunan makanan, tempat makan yang mengandung babi, menu yang tidak sesuai dengan anggaran, menu yang kurang memenuhi gizi juga tidak tepat sasaran karena sekolah elite pun juga mendapatkan MBG, padahal mustahil sekolah yang berbiaya mahal, muridnya mengalami stunting. 

Dalam pelaksanaannya, MBG dijalankan oleh Satuan Pemenuhan Pelayanan Gizi (SPPG). Pengelola SPPG diserahkan kepada berbagai kalangan. Saat ini, diperkirakan ada 1910 SPPG.  Ada anggota dewan, yayasan, Polri, institusi. Memang benar, dari pelaksanaan MBG akan membuka lapangan kerja baru, tetapi celah untuk korupsi juga menganga lebar di proyek MBG ini. Bahkan banyak kantin di sekitar dan di dalam sekolah menjadi tutup. 

Di sini, tampak jelas adanya kerja sama antara penguasa dan pengusaha, yang nilainya menjadi bisnis yang menguntungkan. Sementara pelayanan kepada rakyat hanyalah politik pencitraan semata. Tak hanya itu, dengan adanya program MBG, ternyata dana terbesarnya berasal dari pengurangan anggaran pendidikan hingga mencapai lebih dari 60%, kesehatan 24,7℅, dan ekonomi 19,7℅.


Program MBG ini bukanlah langkah keberhasilan pemerintah dalam menurunkan angka stunting, melainkan pengalihan anggaran pendidikan, kesehatan dan ekonomi yang penting menjadi proyek yang sarat dengan pencitraan.

Inilah buah dari penerapan sistem kapitalisme-sekuler. Penguasa dan pengusaha berkolaborasi demi mendapatkan keuntungan, sementara untuk kemaslahatan rakyat hanya ala-kadarnya saja.


Sedangkan Islam memiliki sistem pemerintahan yang khas yang bernama khilafah. Di dalam Islam, seorang pemimpin adalah raa'in (pengurus) kepentingan umat. Rasulullah SAW bersabda, "Imam (Khalifah) adalah pengurus rakyat dan bertanggung jawab atas urusan rakyatnya." (HR. Bukhari dan Muslim).

Hadis di atas menunjukkan bahwa pemimpin sejati dalam Islam adalah pelayan yang mengurus dan melindungi rakyatnya sesuai yang telah ditetapkan oleh hukum syarak. 

Rasulullah SAW juga bersabda, "Setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap pemimpin akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim).

Seorang pemimpin di dalam sistem Islam akan menerapkan syariat Islam secara kafah sebagai perwujudan dalam ketaatannya kepada Allah SWT. Jabatan adalah amanah, bukan sekadar berkuasa. Seorang pemimpin (khalifah) akan bersungguh-sungguh mengurusi kepentingan rakyatnya karena akan dimintai pertanggungjawabannya di akhirat kelak.


Dalam memenuhi kebutuhan gizi generasi, negara menerapkan sistem ekonomi dan sistem politik Islam. Negara wajib menyediakan lapangan pekerjaan yang luas bagi para pencari nafkah sehingga mampu mencukupi kebutuhan pokok, termasuk pemenuhan gizi keluarganya. Negara juga wajib menjaga kestabilan harga kebutuhan pokok rakyatnya serta memastikan distribusi bahan pokok yang merata pada seluruh kalangan masyarakat. Alhasil, pemenuhan gizi bukan hanya dirasakan  oleh generasi, tetapi seluruh lapisan masyarakat.


Mekanisme seperti itu sangat mudah dilakukan oleh negara karena harta kepemilikan umum yang termasuk di dalamnya SDA yang sangat besar dan melimpah dikelola langsung oleh negara dan hasilnya dikembalikan untuk kemaslahatan rakyat berupa pelayanan pendidikan, kesehatan, dan keamanan. Semua itu bisa diakses oleh seluruh kalangan masyarakat secara murah bahkan gratis. 


Sistem pendidikan juga mengedukasi tentang pemenuhan gizi bagi generasi. Ketika generasi  memiliki fisik yang kuat dan sehat, mereka pada masa depan akan mampu membangun peradaban yang cemerlang. Bidang kesehatan juga mendukung pola hidup sehat masyarakat serta pencegahan stunting bagi generasi. Masing-masing bidang saling bersinergi dalam membentuk masyarakat yang hebat dan kuat, tanpa mengorbankan salah satu bidang seperti yang terjadi di dalam sistem kapitalisme-sekular saat ini. 


Demikianlah sistem Islam (khilafah) dalam mengentaskan generasi dari gizi buruk. Dengan penerapan Islam secara kafah di seluruh lini kehidupan, generasi yang kuat dan hebat akan terwujud dengan sempurna. 

Wallahu a'lam.

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel