Kekhawatiran Yang Terhapus

 



Oleh: Finis


Begitu sulitkah menjadi seorang perempuan yang berusia 30 tahun ke atas tapi belum berjodoh? Tekanan dari orang tua yang terus menyerang. Pandangan masyarakat yang tampak mencibir. Teman, sahabat, saudara serta kerabat yang selalu penuh tanya, "kapan mau nikah?" Bahkan pertanyaan terbesar dari diriku sendiri. Bagaimana masa depanku nanti? Bagaimana hari-hariku kedepannya. Padahal setiap saat usia semakin tak muda lagi. Apa sebenarnya yang kuharapkan? 

Ada satu rasa yang tak bisa hilang di dalam benakku. Aku khawatir,cemas, gelisah dan aku takut ketika menikah, tidak diperlakukan sebagai seorang wanita sebagaimana mestinya.


Karena beberapa kali ada pria yang memiliki niat baik padaku, apa yang ada di benakku adalah rasa ketidak percayaanku merajai pikiranku. Yang tergambar fakta di hadapanku adalah wanita harus tetap bekerja keras demi membantu suami, termasuk dalam mencari nafkah. Meski menjadi seorang istri telah memiliki tugas dan kewajiban masing-masing, yang berbeda dengan suami. Pada akhirnya ketika istri tidak mandiri secara ekonomi, dianggap tidak bermanfaat. Bahkan kadang direndahkan.


Ditambah lagi fenomena"Marriage is Scary" banyaknya fakta baik di dunia nyata maupun dunia maya tentang banyaknya permasalahan dalam pernikahan. Kegagalan, kekerasan, beban finansial, penindasan hingga pembunuhan. Sungguh sangat mengerikan. 


Semua itu membuat nyaliku makin ciut. Takut ketika menikah banyak hal buruk yang akan terjadi. Dan itu terasa berat bagiku. Mengapa banyak fakta yang tragis harus terjadi? Pernikahan yang seharusnya jalan yang indah, pernikahan seharusnya membuka banyak pintu-pintu yang bernilai ibadah dan berpahala besar, ternyata menjadi menakutkan. Aku mulai berfikir keras, mencari jawab atas semua yang terjadi. Jalan hidup yang tidak sejalan, dengan fitrah manusia. Sistem pranata kehidupan yang tidak sesuai dengan penciptaan manusia di bumi ini. Aturan hidup yang diciptakan dengan mengandalkan nafsu, yang akhirnya sarat dengan kepentingan. Bukan menghasilkan kemaslahatan dan kebaikan bagi manusia. Tetapi semakin menghancurkan pola pikir manusia menjadi jauh dari kewarasan. Sehingga perbuatan manusia banyak di luar nalar. Kejam, bengis, zalim, sombong serta tidak manusiawi.


Di saat banyaknya fakta yang ada, sempat mampu mengguncang pikiran dan perasaan ini. Hingga aku hampir menyerah. Lantas kucoba kembali untuk bangkit, menata lagi langkah yang terpuruk. Kuserahkan semua pada Zat yang menciptakan manusia. Aku tetap berharap, bahwa suatu saat nanti  aku akan menemukan jodohku.


Beruntung jalan dakwah ini menuntunku pada rasa percaya diriku yang selama ini hampir hilang. Sungguh dakwah mengajak Islam kafah adalah jalan yang agung. Memahami Islam bukan hanya sekedar agama, tetapi jalan hidup yang harus ditapaki hingga perjalanan usai. Islam mampu menghapus rasa khawatir ku yang selama ini bersarang di dalam dada. Keyakinanku semakin kuat, bahwa perempuan akan kembali pada fitrah yang sesungguhnya. Perempuan dimuliakan  di dalam Islam.Ketika Islam kafah diterapkan di seluruh lini kehidupan. 

Kini langkahku semakin  pasti. Tak ada lagi keraguan. Jodoh adalah ditangan Allah. Tinggal kita melayakkan diri di hadapan-Nya. Sudah pantaskah diri ini mendapatkan anugerah-Nya?

Ketika peran dan upaya telah kulalui, menapaki jalan dakwah menuju Islam kafah.

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel