Menyoal SKB Kesehatan Jiwa Anak

 


Oleh :Deni Marliani, S.Pd (Pegiat Literasi)


Pemerintah melakukan tindakan konkret untuk mengatasi masalah kesehatan mental anak di Indonesia. Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA), Arifah Fauzi, bersama dengan delapan pemimpin Kementerian/Lembaga (K/L) lainnya secara resmi menandatangani Surat Keputusan Bersama (SKB) mengenai Kesehatan Jiwa Anak. Kebijakan ini dirasakan masyarakat belum berdampak nyara. 


Dilansir dari https://www.kemenpppa.go.id (4/3/2026), Menteri PPPA mengungkapkan bahwa mereka telah melakukan Survei Nasional Pengalaman Hidup Anak dan Remaja (SNPHAR) pada tahun 2024, di mana salah satu fokus utama adalah masalah kesehatan mental. Jika dirunut dari kompas.com, 7 Maret 2026, 17:07 WIB, hasil survei menunjukkan bahwa 7,28 persen anak mengalami isu kesehatan mental. Dari jumlah tersebut, 62,19 persen juga menghadapi kekerasan, baik itu fisik, emosional, maupun seksual, dalam periode 12 bulan terakhir. 


Sebagai tambahan, selain Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin dan Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Arifah Fauzi, hadir pula Menteri Komunikasi dan Digital Meutya Hafid, Menteri Sosial Saifullah Yusuf, Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu'ti, Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian, Menteri Agama Nasaruddin Umar, dan Menteri Kependudukan serta Pembangunan Keluarga Wihaji yang juga menjabat sebagai Kepala BKKBN, serta perwakilan dari Kapolri yang ikut dalam acara penandatanganan tersebut. 


Pemerintah menyadari adanya masalah serius terkait kesehatan mental anak, terutama dengan meningkatnya jumlah siswa yang berpikir untuk mengakhiri hidup atau bahkan mencobanya dalam tujuh tahun terakhir. Jika keadaan ini dibiarkan berlanjut, masalah kesehatan mental di kalangan anak-anak bisa berubah menjadi bahaya signifikan bagi masa depan negara. Anak-anak yang seharusnya berkembang dalam suasana yang aman dan penuh perhatian malah mengalami beban berat dalam hidup mereka.


 *Krisis Jiwa Generasi dalam Sistem Liberal-Sekuler* 


Meningkatnya masalah kesehatan mental pada anak-anak tidak dapat dipisahkan dari sistem kehidupan yang ada saat ini yaitu Sistem Liberal-Sekuler. Sistem Liberal-Sekuler yang menguasai kehidupan modern telah menciptakan cara pandang masyarakat yang semakin menjauh dari prinsip-prinsip agama. Sekularisme memisahkan agama dari aspek kehidupan. Dalam pandangan ini, agama dianggap sebagai urusan pribadi yang tidak perlu dijadikan landasan dalam mengatur aspek sosial, pendidikan, ekonomi, maupun politik. 


Sebagai akibatnya, nilai-nilai spiritual semakin terpinggirkan dari kehidupan masyarakat. Paradigma serta prinsip-prinsip Islam seharusnya menjadi acuan atau petunjuk hidup untuk memastikan kesejahteraan masyarakat, terutama bagi generasi mendatang. Namun, pemahaman terhadap Islam di kalangan masyarakat semakin tergerus oleh nilai-nilai sekuler yang liberal, ditambah dengan dominasi media kapitalis global. Media yang menyajikan konten yang tidak bermanfaat, merusak akidah umat, dan mengesankan bahwa tayangan yang bertentangan dengan prinsip-prinsip Islam adalah hal yang normal.


 *Pendidikan yang Kian Kehilangan Arah* 


Pendidikan dalam keluarga, di sekolah, dan dalam masyarakat tidak didasarkan pada akidah serta syariat Islam. Hal ini mengakibatkan individu atau generasi menjauh dari pengertian Islam, di mana ukuran kesuksesan diukur berdasarkan pencapaian materi. Semakin banyak materi yang diperoleh, semakin tinggi penilaian kesuksesan hidup seseorang. 


Akibatnya, kondisi ini memudahkan generasi saat ini merasa tertekan dalam hidupnya, dan menganggap dirinya gagal berdasarkan standar kesuksesan yang mengutamakan aspek materi. Generasi cenderung merasakan kegagalan dalam hidupnya, dan beban hidup yang berat bisa mendorong mereka untuk menyerah dan mencari solusi instan, seperti bunuh diri. 


Oleh karena itu, sistem sekuler yang liberal dan kapitalis ini menjadi penyebab utama kerusakan dalam masyarakat, termasuk di kalangan generasi penerus. Sistem ini seharusnya diangkat sebagai musuh yang harus dihadapi bersama oleh masyarakat. Selama sistem ini masih berlanjut, kerusakan di negara ini akan terus berlangsung dan semakin memperdalam masalah dalam kehidupan masyarakat.


 *Solusi Islam* 


Islam melihat manusia sebagai makhluk yang memiliki aspek fisik serta spiritual. Oleh karena itu, pengembangan individu tidak hanya terpaku pada kondisi fisik dan pikiran, tetapi juga pada penguatan keyakinan dan moralitas. Dalam perspektif Islam, kesehatan mental sangat terkait dengan kekuatan iman. Seseorang yang memiliki keyakinan yang solid akan lebih mampu menghadapi berbagai cobaan hidup dengan kesabaran dan harapan yang tinggi.


Islam juga menetapkan tujuan hidup yang jelas bagi umat manusia, yaitu beribadah kepada Allah dan menjalani hidup sesuai dengan aturan-Nya. Tujuan yang jelas ini memberikan arti yang dalam bagi setiap aktivitas yang dilakukan oleh manusia. Ketika anak-anak dibesarkan dalam sebuah lingkungan yang menanamkan nilai-nilai keesaan Tuhan, mereka akan mendapatkan dasar spiritual yang kokoh. Mereka akan menyadari bahwa setiap ujian dalam hidup adalah bagian dari ketentuan Allah yang harus dihadapi dengan kesabaran dan keimanan.


Dalam kerangka sistem Islam, negara mempunyai peranan penting dalam melindungi masyarakat, termasuk anak-anak. Negara berfungsi sebagai pengelola dan pelindung bagi warganya. Tugas negara tidak hanya sebatas memberikan layanan administratif, tetapi juga memastikan bahwa kehidupan masyarakat sesuai dengan prinsip-prinsip syariat Islam. Di bidang pendidikan, negara akan mengembangkan kurikulum yang berbasis pada keyakinan Islam. Tujuan dari pendidikan bukan sekadar menghasilkan tenaga kerja yang terampil, tetapi juga menciptakan generasi yang taat dan berperilaku baik. Negara akan mengawasi media untuk memastikan informasi yang disebarkan tidak merusak moral masyarakat. Media akan diarahkan untuk menyebarkan nilai-nilai positif dan membentuk karakter yang kuat. 


Krisis kesehatan mental yang dihadapi oleh generasi saat ini menunjukkan bahwa sistem kapitalisme yang sekuler dan liberal telah gagal menciptakan kehidupan yang sehat untuk manusia. Sistem ini lebih berfokus pada persaingan, pencarian keuntungan material, dan kebebasan individu tanpa batasan. Akibatnya, manusia terjebak dalam tekanan yang tinggi dan kehilangan keseimbangan spiritual dalam kehidupan mereka. Dengan demikian, umat Islam harusu menyadari bahwa perubahan yang diperlukan tidak hanya terletak pada kebijakan teknis, tetapi juga pada sistem kehidupan secara menyeluruh.


Upaya dakwah Islam perluy difokuskan untuk menggantikan sistem sekuler liberal kapitalistik dengan sistem Islam yang berbasis pada wahyu Allah. Hal ini, sangat membutuhkan adanya suatu negara yang menjalankan prinsip-prinsip Islam secara komprehensif sehingga dapat menjamin kehidupan generasi dan membentuk generasi yang akan menjadi pemimpin terbaik dalam peradaban cemerlang di bawah naungan Islam. Wallahu alam bishshowab.

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel